Jumat, 01 Januari 2016

Pacar Tuh Begini Part 4



                Di semester akhir ini, aku dan Ical sama-sama sibuk. Jarang nonton, jarang makan bareng, bahkan chating pun alakadarnya. Aku sibuk dengan magangku dan Ical juga sibuk dengan skripsinya. Untungnya sih walaupun jarang chating tapi komunikasi tetap terjaga setiap hari. Walaupun pesan itu hanya kata “I Love You”, “I Miss You”, kadang Ical juga yang merengek-rengek “Sayna-kuu... aku kangen!” tapi mau bagaimana, atur waktu buat ketemu saja susah.
                Sore itu sepulang magang, aku duduk sendirian di restoran menikmati secangkir lemon tea dan spaghetti. Yaahhh sekarang aku sedang magang di Jakarta sedangkan Ical masih di Jogja, itulah yang membuat kami sulit bertemu. Saat sedang asyik chating dengan Ical, tiba-tiba sosok laki-laki duduk di hadapanku. Aku mengalihkan pandanganku dari handphone ke arah laki-laki tersebut. Jantungku serasa hampir meledak. Tatapan mataku tajam menatap matanya dengan sadis. Ya, Tuhan rupanya menakdirkanku bertemu dengan seorang laki-laki yang pernah mencampakkanku dulu.
“Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu disini..” ucapnya basa-basi. Aku mengembangan senyum paksa yang malas. Berat rasanya hati ini untuk ikhlas tersenyum setelah apa yang dia lakukan dulu.
“Aku juga.” Jawabku ku buat semanis mungkin dan ku buat seramah mungkin.
“Kamu apa kabar?” tanyanya lagi.
“Seperti yang kamu lihat. Aku selalu baik-baik saja.” Jawabku. Aku tidak berminat menanyakan kabarnya balik.
“Aneh rasanya setelah 3 tahun nggak ketemu. Ehhh ketemu disini. Kamu ngapain di jakarta?” tanyanya lagi.
“Magang. Iya aneh ya..”
“Aku kuliah di Jakarta ikut pak Dhe-ku.”    Idihhh siapa juga yang nanya... batinku. Aku hanya manggut-manggut mendengarnya.
“Sayna...” panggilnya lirih. Aku menatap matanya. “Aku masih sayang sama kamu.” Gleerrr!!! Jantungku serasa dilempari bom dengan ledakan yang dahsyat. Nyeri rasanya. “Apa kita bisa kayak dulu lagi?” tanyanya iba.
“Andre cukup. Itu masa lalu. Aku udah punya masa depan sendiri. Seminggu lagi aku balik ke Jogja, jangan hubungi aku lagi. Maaf ya aku buru-buru...” aku langsung beranjak pergi meninggalkan Andre. Ya, mantan pacarku di masa SMA dulu.
Aku berpacaran dengan Andre hanya bertahan 6 bulan saat aku duduk di bangku kelas XII semester akhir. Aku sangat mencintainya, iya dulu. Seperti biasanya seorang wanita pasti suka mencoba-coba produk skincare baru dan termakan iklan di televisi. Wajahku yang tadinya baik-baik saja, mulai mencoba produk baru. Alhasil mukaku hancur, jerawatan dan kusam. Saat aku dalam keadaan hancur seperti itu, tiba-tiba Andre menghilang. Ohhh... aku tahu ternyata, Andre hanya menyukai kecantikanku saja dan hanya dia jadikan sebagai ajang pamer ke teman-temannya bahwa dia memiliki pacar yang cantik. Tapi saat itu juga, sahabat baikku Ical datang menghiburku dan memberi semangat untuk memperbaiki wajah lagi.
“Busettt Sayna, kenapa bisa jerawatan begitu sih?” tanya Ical begitu dia sampai di rumahku.
“Gue coba produk skincare baru..” jawabku lemas.
“Makanya jadi cewek tuh jangan kemakan iklan gak jelas dehh... yuk gue anterin ke dokter kulit!” Ical menyeretku untuk naik di jok belakang motornya. Ical mengantarku ke dokter kulit, mengantarku ke salon untuk melakukan perawatan lagi. Ical benar-benar sahabat yang selalu ada di saat aku susah dan senang.
“Thanks ya, Cal. Selama ini lo udah nemenin gue ke mana-mana buat perawatan.” Ucapku saat turun dari jok belakang motornya. Yah, kurang lebih selama dua bulan Ical sering mengantarku ke klinik kecantikan.
“Biasa aja kali sama gue. Asal jangan lupa traktiranya yee..” candanya. Akupun tertawa dan mengiyakan. Aku mengajak Ical duduk di kursi depan rumah kemudian membawakan teh dari dapur.
“Btw, lo udah punya pacar belum sih? Kalo dia tahu lo barengan sama gue terus ntar salah paham lagih...” ucapku membuka obrolan. Memang Ical jarang sekali membicarakan soal seseorang yang dia suka. Aku tidak pernah tahu siapa yang dia suka.
“Hahaha gue masih jomblo high class kaleee... tapi ada lahh cewek yang gue suka..” ucapnya bangga.
“Siapa?” tanyaku. Entah kenapa saat Ical bilang ada seseorang yang dia suka, hatiku terasa nyeri.
“Dia orangnya nggak pekaan. Dan nggak pernah lihat gue.”
“Lo punya nomer hapenya nggak?” tanyaku lagi.
“Punyalahh...”
“Ayo dong tunjukkan kalo lo itu gentle. Telpon dia trus bilang, hey aku suka kamu. Trus tutup telponnya.” Walaupun hatiku agak nyeri, tapi aku tetap memberi saran demi kebahagiaan sahabatku itu.
“Gilaa apa.. hahaha” Ical tertawa. Aku hanya melirik. “Ohh iya, aku pulang dulu ya. Udah sore soalnya...” pamitnya setelah meneguk habis teh yang ku buat beberapa menit lalu.
“Ya udah hati-hati yaa...” ucapku. Dia berjalan perlahan menuju gerbang dan aku masuk rumah sambil membawa cangkir untuk aku kembalikan ke dapur. Tapi langkahku tiba-tiba terhenti karena dering hanphoneku. Ada seseorang yang menelponku dan orang itu adalah Ical. Aku menoleh ke arahnya dan belum mengangkat telponnya. Dia berdiri menatapku, akupun keluar rumah lagi kemudian mengangkat telponnya.
“Sayna, aku sayang sama kamu.” Begitu ucapnya lewat telepon. Mata kami bertatapan dari kejauhan, kemudian kami saling mendekat dengan perasaan tak karuan. Jantungku serasa jatuh ke perut, tapi kenapa tiba-tiba suasana hatiku menjadi senang dan berbunga-bunga? Saat berdekatan masih dengan telepon di telinga, kami bertatapan dan tersenyum.
“Tutup teleponnya. Pulsamu habis entar..” ucapku dari telepon walaupun jarak kami berhadapan hanya setengah meter. Ical tertawa kemudian menutup teleponnya. Dia merentangkan kedua tangannya memberiku tanda agar aku memeluknya. Pada akhirnya, aku jatuh ke pelukannya. Aneh rasanya tapi aku senang. Begitulah Tuhan, memberi cobaan selalu ada hikmahnya. Saat mukaku hacur kusam dan jerawatan, saat itu juga aku tahu siapa yang tulus dan siapa yang menghianatiku. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk mencintai Ical dengan tulus, sepenuh hati, dan aku akan mempertahankan Ical agar tetap di sisiku.
Begitu aku sampai di apartemen, aku langsung mencari nama Ical di daftar kontak telepon, kemudian menekan tombol call. “Ical sayang... I Love You.” Ucapku begitu dia mengangkat telepon. Seketika malam menjadi sangat indah ketika aku mendengar suaranya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar