Huuhhhh...
akhirnya kuliah hari ini selesai. Nggak sempet makan siang karena jadwal kuliah
yang padat. Badmoodku seketika hilang begitu mendapat pesan Line dari Ical.
LINE from Ical at 05.20
p.m
Sayang, kamu udah makan
belum? (read)
LINE to Ical at 05.21
p.m
Belum nihh.. (read)
LINE from Ical at 05.23
p.m
Kita makan yukk.. aku
udah di depan gedung kampus kamu. Di tempat biasa.. (read)
Setelah membaca pesan terakhir, aku langsung berlari ke
tempat biasa Ical menemuiku. Aku nggak mau membuat dia menunggu terlalu lama.
“Ehh Sayna maen pergi aja...” ucap Anggi
begitu melihatku langsung berlari meninggalkannya. “I’am sorry baby.. I must
meet my honey now.. byee..” aku berteriak sambil terus berlari. Anggi hanya
melambaikan tangannya dari kejauhan. Ku hentikan langkahku begitu melihat Ical duduk
di atas motornya. Aku berjalan perlahan mendekatinya, dia menoleh ke arahku dan
tersenyum.
“Mau makan dimana nih kita?” tawarnya sambil menyerahkan helm
warna pink. Dia selalu tahu apa warna kesukaanku.
“Emmm apa yaa...” aku berfikir sejenak. “Aku pikirin sambil
jalan deh. Yuk brangkat” aku langsung naik di jok belakang motornya.
“Okay tuan putri..”
Ical melajukan motornya sambil sesekali mengajakku ngobrol.
Kami memutuskan untuk makan di resto kecil dekat jalan Kaliurang. Begitu turun
dari motor, aku agak kesulitan membuka kunci helm. Ical yang melihatku
kesulitan membuka kunci helm, membantuku melepaskannya. Wajahnya yang mendekati
wajahku dan hembusan nafasnya yang terasa di pipiku, Tuhan... aku mencintai
laki-laki ini. Ical menggandeng tanganku masuk ke resto. Kami duduk di dekat
kaca besar yang menghadap jalan raya.
“Berhubung kemarin aku numpang makan di kos kamu, sekarang
gantian aku yang bayarin.” Ucapnya begitu aku membuka daftar menu.
“Nggak usah lah sayang, kan sama-sama anak kuliahan. Jangan
gitu...” aku nggak enak.
“Udahh nggak apa-apa. Pesen aja apa yang kamu suka.”
“Beneran nih?”
“Iya bener!”
“Aku mau pesen yang paling mahal ahh...” godaku. Aku sedikit
melirik ke arah wajahnya yang mendadak mengalami perubahan ekspresi. Ical-ku
yang lucu. “Eeemm aku pesen ayam kremes sama es jeruk aja.”
“Lohh katanya mau yang mahal?” tanyanya sok-sokan. Ical...
aku tahu.
“Udah nggak minat sama yang mahal. Cepet gihh pesen.” Jawabku
mengalihkan. Ical hanya manggut-manggut kemudian memesan makanan. Sembari menunggu
makanan siap, aku dan Ical shollat maghrib di musholla resto.
“Siap?” ucapnya sambil menoleh ke tempatku berdiri. Ya, aku
ada di belakangnya. Akupun mengangguk.
“Allahu akbar.” Ical memulai shollat. Ketika mendengar suara
Ical mengucap takbir, hatiku serasa damai. Sangat damai. Aku berharap Ical yang
akan menjadi imamku nanti. “Assalamualaikum warrahmatullahh..” ucapnya salam
mengakhiri shollat. Ical menoleh ke arahku dan tersenyum kemudian kembali ke
posisi semula untuk berdoa. Dia terlihat tampan kalau selesai shollat.
Setelah selesai shollat, kami kembali ke meja resto. Rupanya
makanan yang kami pesan baru aja datang. Kami makan malam berdua, tidak
romantis tapi ini cukup menyenangkan.
“Gimana kuliahnya tadi?” tanyanya di sela-sela makan.
“Yaa gitu dehh... tugas lagi. Tapi seenggaknya hari ini aku
seneng..” jawabku jujur.
“Seneng gara-gara aku ya??” godanya. Tapi memang iya. Aku
tersenyum dan mengangguk pelan. “Kamu?” aku tanya balik.
“Tadi bedah mayat. Lumayan lancar walaupun agak takut kalo
tiba-tiba tuh mayat bangun.. hehe.” Jawabnya kemudian memasukkan satu sendok
nasi ke dalam mulutnya.
Tiba-tiba seorang wanita menghampiri kami. “Loh, Ical?”
Aku dan Ical bersamaan menoleh ke arah wanita itu. “Andin,
kamu kok bisa disini?” tanya Ical yang ternyata wanita itu adalah wanita yang
sering mengirim pesan kepada Ical.
“Iya aku ada janji disini sama teman. Boleh gabung sebentar?”
tanyanya. Ical mengangguk pelan. Arrgghhh sebenarnya aku keberatan. Merusak
suasana.
“Halo, aku Andin. Kamu temannya Ical ya?” wanita itu
mengulurkan tangan. Aku menjabatnya dan berkata, “Aku Sayna.” Saat dia menanyaiku
bahwa aku temannya Ical, aku agak tersinggung. Aku ini pacarnya!!
“Dia bukan temanku, Din.” Sahut Ical yang mungkin sempat
melihat ekspresiku yang kecut.
“Saudara?”
“Dia pacarku.” Jawaban Ical membuatku terkejut sekaligus
membuat hatiku sendikit longgar. Wanita itu juga nampak terkejut.
“Ohh begitu. Ya udah kalo gitu aku ke sana dulu yaa. Lagi ada
janji...” mendadak wanita itu berpamitan. Ical tersenyum ke arahku. Nampaknya
dia benar-benar membuktikan bahwa aku adalah seseorang yang dia banggakan.
Isi hati Ical
Sore ini aku aku menunggumu di samping fakultasmu.
Kamu yang berlari dengan senyuman merekah dari bibirmu, hampir membuatku gila.
Sayna, kenapa kamu selalu membuat hatiku berdegup seperti ini tiap kali aku
melihat senyumanmu?? Saat aku menawarimu untuk makan apa, tiba-tiba kamu
langsung naik ke jok belakang motorku dan memelukku dari belakang.
Sayna-ku yang cantik ketika memakai mukena kemudian
berdiri di belakangku sebagai makmum. Aku berharap kita akan seperti ini
kedepannya. Say, kamu nggak perlu cemburu soal wanita yang menghampiri kita
itu. Andin bukan type-ku, justru kamulah segalanya. Aku bangga memiliki kekasih
yang cantik, baik, nggak bawel, dan yang terpenting adalah setia. Terimakasih
telah bertahan bersamaku sampai sekarang. Aku mencintaimu Sayna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar