Jumat, 01 Januari 2016

Pacar Tuh Begini Part 2



                Huuhhhh... akhirnya kuliah hari ini selesai. Nggak sempet makan siang karena jadwal kuliah yang padat. Badmoodku seketika hilang begitu mendapat pesan Line dari Ical.
LINE from Ical at 05.20 p.m
Sayang, kamu udah makan belum? (read)
LINE to Ical at 05.21 p.m
Belum nihh.. (read)
LINE from Ical at 05.23 p.m
Kita makan yukk.. aku udah di depan gedung kampus kamu. Di tempat biasa.. (read)
Setelah membaca pesan terakhir, aku langsung berlari ke tempat biasa Ical menemuiku. Aku nggak mau membuat dia menunggu terlalu lama. “Ehh Sayna maen pergi aja...”  ucap Anggi begitu melihatku langsung berlari meninggalkannya. “I’am sorry baby.. I must meet my honey now.. byee..” aku berteriak sambil terus berlari. Anggi hanya melambaikan tangannya dari kejauhan. Ku hentikan langkahku begitu melihat Ical duduk di atas motornya. Aku berjalan perlahan mendekatinya, dia menoleh ke arahku dan tersenyum.
“Mau makan dimana nih kita?” tawarnya sambil menyerahkan helm warna pink. Dia selalu tahu apa warna kesukaanku.
“Emmm apa yaa...” aku berfikir sejenak. “Aku pikirin sambil jalan deh. Yuk brangkat” aku langsung naik di jok belakang motornya.
“Okay tuan putri..”
Ical melajukan motornya sambil sesekali mengajakku ngobrol. Kami memutuskan untuk makan di resto kecil dekat jalan Kaliurang. Begitu turun dari motor, aku agak kesulitan membuka kunci helm. Ical yang melihatku kesulitan membuka kunci helm, membantuku melepaskannya. Wajahnya yang mendekati wajahku dan hembusan nafasnya yang terasa di pipiku, Tuhan... aku mencintai laki-laki ini. Ical menggandeng tanganku masuk ke resto. Kami duduk di dekat kaca besar yang menghadap jalan raya.
“Berhubung kemarin aku numpang makan di kos kamu, sekarang gantian aku yang bayarin.” Ucapnya begitu aku membuka daftar menu.
“Nggak usah lah sayang, kan sama-sama anak kuliahan. Jangan gitu...” aku nggak enak.
“Udahh nggak apa-apa. Pesen aja apa yang kamu suka.”
“Beneran nih?”
“Iya bener!”
“Aku mau pesen yang paling mahal ahh...” godaku. Aku sedikit melirik ke arah wajahnya yang mendadak mengalami perubahan ekspresi. Ical-ku yang lucu. “Eeemm aku pesen ayam kremes sama es jeruk aja.”
“Lohh katanya mau yang mahal?” tanyanya sok-sokan. Ical... aku tahu.
“Udah nggak minat sama yang mahal. Cepet gihh pesen.” Jawabku mengalihkan. Ical hanya manggut-manggut kemudian memesan makanan. Sembari menunggu makanan siap, aku dan Ical shollat maghrib di musholla resto.
“Siap?” ucapnya sambil menoleh ke tempatku berdiri. Ya, aku ada di belakangnya. Akupun mengangguk.
“Allahu akbar.” Ical memulai shollat. Ketika mendengar suara Ical mengucap takbir, hatiku serasa damai. Sangat damai. Aku berharap Ical yang akan menjadi imamku nanti. “Assalamualaikum warrahmatullahh..” ucapnya salam mengakhiri shollat. Ical menoleh ke arahku dan tersenyum kemudian kembali ke posisi semula untuk berdoa. Dia terlihat tampan kalau selesai shollat.
Setelah selesai shollat, kami kembali ke meja resto. Rupanya makanan yang kami pesan baru aja datang. Kami makan malam berdua, tidak romantis tapi ini cukup menyenangkan.
“Gimana kuliahnya tadi?” tanyanya di sela-sela makan.
“Yaa gitu dehh... tugas lagi. Tapi seenggaknya hari ini aku seneng..” jawabku jujur.
“Seneng gara-gara aku ya??” godanya. Tapi memang iya. Aku tersenyum dan mengangguk pelan. “Kamu?” aku tanya balik.
“Tadi bedah mayat. Lumayan lancar walaupun agak takut kalo tiba-tiba tuh mayat bangun.. hehe.” Jawabnya kemudian memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
Tiba-tiba seorang wanita menghampiri kami. “Loh, Ical?”
Aku dan Ical bersamaan menoleh ke arah wanita itu. “Andin, kamu kok bisa disini?” tanya Ical yang ternyata wanita itu adalah wanita yang sering mengirim pesan kepada Ical.
“Iya aku ada janji disini sama teman. Boleh gabung sebentar?” tanyanya. Ical mengangguk pelan. Arrgghhh sebenarnya aku keberatan. Merusak suasana.
“Halo, aku Andin. Kamu temannya Ical ya?” wanita itu mengulurkan tangan. Aku menjabatnya dan berkata, “Aku Sayna.” Saat dia menanyaiku bahwa aku temannya Ical, aku agak tersinggung. Aku ini pacarnya!!
“Dia bukan temanku, Din.” Sahut Ical yang mungkin sempat melihat ekspresiku yang kecut.
“Saudara?”
“Dia pacarku.” Jawaban Ical membuatku terkejut sekaligus membuat hatiku sendikit longgar. Wanita itu juga nampak terkejut.
“Ohh begitu. Ya udah kalo gitu aku ke sana dulu yaa. Lagi ada janji...” mendadak wanita itu berpamitan. Ical tersenyum ke arahku. Nampaknya dia benar-benar membuktikan bahwa aku adalah seseorang yang dia banggakan.
Isi hati Ical
               Sore ini aku aku menunggumu di samping fakultasmu. Kamu yang berlari dengan senyuman merekah dari bibirmu, hampir membuatku gila. Sayna, kenapa kamu selalu membuat hatiku berdegup seperti ini tiap kali aku melihat senyumanmu?? Saat aku menawarimu untuk makan apa, tiba-tiba kamu langsung naik ke jok belakang motorku dan memelukku dari belakang.
                Sayna-ku yang cantik ketika memakai mukena kemudian berdiri di belakangku sebagai makmum. Aku berharap kita akan seperti ini kedepannya. Say, kamu nggak perlu cemburu soal wanita yang menghampiri kita itu. Andin bukan type-ku, justru kamulah segalanya. Aku bangga memiliki kekasih yang cantik, baik, nggak bawel, dan yang terpenting adalah setia. Terimakasih telah bertahan bersamaku sampai sekarang. Aku mencintaimu Sayna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar