Jumat, 01 Januari 2016

Pacar Tuh Begini Part 1



                Pagi ini aku sibuk membereskan kamar kosku. Mencuci baju, menyapu, mengepel, tiba-tiba bunyi ringtone Line di handphone menghentikan kegiatanku sejenak. Aku meraih ponselku, dan membuka isi pesan Line tersebut. Ohhh ternyata dari Genta.
LINE from Ical at 07.55 a.m (read)
“Sayang, aku makan di kos kamu yaaa... uangku habis ini.”
LINE to Ical at 07.56 a.m (read)
“Ya udah sini...”
Balasanku hanya di read, mungkin Ical langsung tancap gas menuju kosku. Yaa itulah pacarku dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku kemudian keluar ke warung sekitar kosku, membeli bahan makanan untuk bisa dimasak dan dimakan bersama Ical. Hhhmmm... sayur asem, mungkin boleh dicoba. Lima belas menit kemudian Ical sampai di kosku. Aku suka style casualnya dengan pawakan yang tinggi. Sangat tampan.
“Kosmu selalu rapi dan wangi ya, Say.” Ucapnya begitu masuk ke kamar kosku.
“Apelahh... mau makan kan?” tanyaku menggoda. Dia mengangguk dengan raut muka penuh harap, membuatku ingin tertawa melihat ekspresinya.
“Masak dulu ya sayangg...” ucapku mengubah ekspresi wajahnya. Hahaha. Laki-laki yang lucu. Aku menyerahkan pisau agar dia memotong kacang panjang, sedangkan aku menanak nasi di magic com.
“Ini motongnya segini?” tanyanya sambil memperlihatkan potongan kacang panjang yang sudah dia potong.
“Iya terserah kamu.” Aku pura-pura sibuk, padahal aku sedang asyik memandanginya yang sedang memotong-motong sayur dengan tangannya yang kaku. Setelah sayuran siap, aku memasukkannya ke panci kecil yang airnya sudah mendidih kemudian memasukkan bumbu sayur asem instant. Ical mengambil dua piring dan meletakkannya di kasur.
“Sendoknya mana sayang?” dia mencari-cari sendok yang biasa ada di tempat, tapi tidak ada.
“Masih di tempat cuci kali. Coba diambil.” Aku menyuruhnya pergi ke dapur kos untuk mengambil sendok disana. Begitu kembali ke kamarku, dia menyipratkan sedikit air ke wajahku menggunakan jarinya.
“Ical!!” aku berteriak menyebut namanya.
“Ciee yang belum mandi..” ucapnya sambil tersenyum menggoda.
“Udahh sini gih makan. Udah mateng.” Aku menyuruhnya duduk disampingku dan makan masakan buatan kami berdua. Aku mengambilkan nasi untuknya, dan dia memberikan sendok padaku.
“Kegiatan hari ini ngapain?” tanyanya disela-sela makan.
“Eemm...” aku mencoba mengingat-ingat agenda hari ini. “Nggak ada.” Lanjutku begitu aku ingat bahwa tidak ada agenda apa-apa hari sabtu ini.
“Maklum lah yaa.. akhir bulan gini kagak ada duit, jadinya nggak bisa kemana-mana.” Sahutnya.
“Kapan nih mau pulang?” tanyaku sejurus kemudian.
“Dua minggu lagi kayaknya..”
“Uuhh lamaaa....” aku memasang wajah melas. Dia menenangkanku dengan mengacak-acak pelan rambutku kemudian menyentuh lembut pipiku agar aku kembali tersenyum. Aku membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya, sedangkan Ical hanya duduk-duduk asyik melihat layar handphonenya. Senyum-senyum sendiri pula.
“Kenapa senyum-senyum??” tanyaku sambil meletakkan piring yang baru aku cuci di tempatnya.
“Enggak..” jawabnya sambil tertawa kecil. Aku tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan. Mungkin kalau pacarnya bukan aku, akan langsung merebut ponselnya untuk memastikan kalau laki-lakinya tidak sedang dekat dengan wanita lain. Tapi aku menghargai privasinya.
“Ini lho sayang, ada cewek nguber-nguber aku terus... coba lihat pesan line-nya nih.. hahah.” Dia menyerahkan ponselnya padaku agar aku melihatnya. Begini isi pesannya:
Halo Ical, kamu udah makan belum? Makan bareng aku yuk. Aku nggak bisa makan sendirian. :*
Aku agak kaget melihat emoticon cium di akhir kalimat. “Kok ada emoticon ciumnya?” sebelum aku berfikiran negatif, lebih baik aku tanyakan langsung.
“Aku juga nggak tahu sih..” jawabnya singkat.
“Emang kamu nggak pernah bilang kalo kamu udah punya pacar?” tanyaku lagi. Ical terdiam dan menggeleng.
“Ohh jadi kamu suka jadi idola para cewek-cewek??”
“Bukan gitu sayang...”
“Kamu pulang deh.. aku mau ngerjain tugas.” Aku mendadak badmood.
“Sayang, jangan marah.” Ucapnya sambil ku dorong keluar dari kosku. Wanita mana yang nggak sebel kalau dirinya tidak pernah diperkenalkan sebagai pacarnya. Wanita mana yang nggak cemburu kalau pacarnya banyak digandrungi cewek-cewek kegenitan. Ahhh Ical.. sebenarnya aku nggak mau kayak gini, tapi kamu yang memulai. Hari-hariku mulai kalut dengan pikiran-pikiran negatif tentang Ical. Aku sedikit takut kalau Ical tidak mencintaiku lagi. Bagaimana kalau ada wanita yang lebih baik dariku? Aku harus bagaimana?
                Siang itu Ical kembali ke kosku untuk makan siang sisa masakan tadi pagi. Suasana jadi agak canggung karena aku yang sempat badmood tadi. Ical hanya datang, lalu duduk dan makan. Tidak ada percakapan yang berarti, hanya ada saling menatap mata seolah-olah hati yang sedang berbicara.
Isi hati Ical
                Sayna-ku... selain cantik, dia juga wanita yang mandiri. Tidak mudah meminta tolong saat dia bisa mengerjakannya sendiri, kecuali dia benar-benar butuh pertolongan. Hari ini aku kehabisan jatah uang bulanan, aku memasak bersama Sayna. Tapi sesuatu membuat Sayna-ku terlihat jengkel. Ya, emoticon cium dari teman perempuanku membuatnya cemburu. Aku memakluminya, karena aku tahu seberapa cintanya Sayna padaku. Saat aku datang ke kosnya siang itu untuk makan bersama lagi, dia memperbolehkanku masuk ke kosnya walaupun dalam diam. Inilah yang aku suka dari Sayna. Semarah-marahnya dia, sengambek-ngambeknya dia, Sayna masih tetap menerimaku. Selalu ada di sisiku dan membantuku. Aku tahu, Sayna tidak akan bisa lama-lama ngambeknya. Aku sangat mencintaimu Sayna...

***
“Kamu nggak mau denger penjelasanku dulu?” Ical membuka obrolan begitu selesai makan siang.
“Soal apa? Emang ada yang harus dijelasin?” tanyaku datar sambil membereskan piring.
“Soal temen perempuanku itu. Dia emang kayak gitu, tapi aku balesnya juga nggak genit kan.. aku bales seadanya.” Jelasnya.
“Trus?” tanyaku lagi.
“Jangan marah yaa...” pintanya memelas. Melihat wajahnya yang seperti itu, akupun tertawa.
“Hahaha siapa sih yang marah... cuman agak kesel aja tadi. Maaf yaa..” Jawabku merubah suasana yang tadinya canggung menjadi seperti biasanya. Aku tersenyum, Ical ikut tersenyum. Memang Ical membalas pesan hanya seperlunya aja, seperti ‘Lain kali yaa’ atau ‘Oh maaf lagi ada praktikum’ atau “Lagi kegiatan nih’. Setidaknya aku tahu kalau Ical menolak ajakan wanita itu secara halus. Setelah melihatku tertawa, dia mulai tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar