Jumat, 01 Januari 2016

Pacar Tuh Begini Part 4



                Di semester akhir ini, aku dan Ical sama-sama sibuk. Jarang nonton, jarang makan bareng, bahkan chating pun alakadarnya. Aku sibuk dengan magangku dan Ical juga sibuk dengan skripsinya. Untungnya sih walaupun jarang chating tapi komunikasi tetap terjaga setiap hari. Walaupun pesan itu hanya kata “I Love You”, “I Miss You”, kadang Ical juga yang merengek-rengek “Sayna-kuu... aku kangen!” tapi mau bagaimana, atur waktu buat ketemu saja susah.
                Sore itu sepulang magang, aku duduk sendirian di restoran menikmati secangkir lemon tea dan spaghetti. Yaahhh sekarang aku sedang magang di Jakarta sedangkan Ical masih di Jogja, itulah yang membuat kami sulit bertemu. Saat sedang asyik chating dengan Ical, tiba-tiba sosok laki-laki duduk di hadapanku. Aku mengalihkan pandanganku dari handphone ke arah laki-laki tersebut. Jantungku serasa hampir meledak. Tatapan mataku tajam menatap matanya dengan sadis. Ya, Tuhan rupanya menakdirkanku bertemu dengan seorang laki-laki yang pernah mencampakkanku dulu.
“Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu disini..” ucapnya basa-basi. Aku mengembangan senyum paksa yang malas. Berat rasanya hati ini untuk ikhlas tersenyum setelah apa yang dia lakukan dulu.
“Aku juga.” Jawabku ku buat semanis mungkin dan ku buat seramah mungkin.
“Kamu apa kabar?” tanyanya lagi.
“Seperti yang kamu lihat. Aku selalu baik-baik saja.” Jawabku. Aku tidak berminat menanyakan kabarnya balik.
“Aneh rasanya setelah 3 tahun nggak ketemu. Ehhh ketemu disini. Kamu ngapain di jakarta?” tanyanya lagi.
“Magang. Iya aneh ya..”
“Aku kuliah di Jakarta ikut pak Dhe-ku.”    Idihhh siapa juga yang nanya... batinku. Aku hanya manggut-manggut mendengarnya.
“Sayna...” panggilnya lirih. Aku menatap matanya. “Aku masih sayang sama kamu.” Gleerrr!!! Jantungku serasa dilempari bom dengan ledakan yang dahsyat. Nyeri rasanya. “Apa kita bisa kayak dulu lagi?” tanyanya iba.
“Andre cukup. Itu masa lalu. Aku udah punya masa depan sendiri. Seminggu lagi aku balik ke Jogja, jangan hubungi aku lagi. Maaf ya aku buru-buru...” aku langsung beranjak pergi meninggalkan Andre. Ya, mantan pacarku di masa SMA dulu.
Aku berpacaran dengan Andre hanya bertahan 6 bulan saat aku duduk di bangku kelas XII semester akhir. Aku sangat mencintainya, iya dulu. Seperti biasanya seorang wanita pasti suka mencoba-coba produk skincare baru dan termakan iklan di televisi. Wajahku yang tadinya baik-baik saja, mulai mencoba produk baru. Alhasil mukaku hancur, jerawatan dan kusam. Saat aku dalam keadaan hancur seperti itu, tiba-tiba Andre menghilang. Ohhh... aku tahu ternyata, Andre hanya menyukai kecantikanku saja dan hanya dia jadikan sebagai ajang pamer ke teman-temannya bahwa dia memiliki pacar yang cantik. Tapi saat itu juga, sahabat baikku Ical datang menghiburku dan memberi semangat untuk memperbaiki wajah lagi.
“Busettt Sayna, kenapa bisa jerawatan begitu sih?” tanya Ical begitu dia sampai di rumahku.
“Gue coba produk skincare baru..” jawabku lemas.
“Makanya jadi cewek tuh jangan kemakan iklan gak jelas dehh... yuk gue anterin ke dokter kulit!” Ical menyeretku untuk naik di jok belakang motornya. Ical mengantarku ke dokter kulit, mengantarku ke salon untuk melakukan perawatan lagi. Ical benar-benar sahabat yang selalu ada di saat aku susah dan senang.
“Thanks ya, Cal. Selama ini lo udah nemenin gue ke mana-mana buat perawatan.” Ucapku saat turun dari jok belakang motornya. Yah, kurang lebih selama dua bulan Ical sering mengantarku ke klinik kecantikan.
“Biasa aja kali sama gue. Asal jangan lupa traktiranya yee..” candanya. Akupun tertawa dan mengiyakan. Aku mengajak Ical duduk di kursi depan rumah kemudian membawakan teh dari dapur.
“Btw, lo udah punya pacar belum sih? Kalo dia tahu lo barengan sama gue terus ntar salah paham lagih...” ucapku membuka obrolan. Memang Ical jarang sekali membicarakan soal seseorang yang dia suka. Aku tidak pernah tahu siapa yang dia suka.
“Hahaha gue masih jomblo high class kaleee... tapi ada lahh cewek yang gue suka..” ucapnya bangga.
“Siapa?” tanyaku. Entah kenapa saat Ical bilang ada seseorang yang dia suka, hatiku terasa nyeri.
“Dia orangnya nggak pekaan. Dan nggak pernah lihat gue.”
“Lo punya nomer hapenya nggak?” tanyaku lagi.
“Punyalahh...”
“Ayo dong tunjukkan kalo lo itu gentle. Telpon dia trus bilang, hey aku suka kamu. Trus tutup telponnya.” Walaupun hatiku agak nyeri, tapi aku tetap memberi saran demi kebahagiaan sahabatku itu.
“Gilaa apa.. hahaha” Ical tertawa. Aku hanya melirik. “Ohh iya, aku pulang dulu ya. Udah sore soalnya...” pamitnya setelah meneguk habis teh yang ku buat beberapa menit lalu.
“Ya udah hati-hati yaa...” ucapku. Dia berjalan perlahan menuju gerbang dan aku masuk rumah sambil membawa cangkir untuk aku kembalikan ke dapur. Tapi langkahku tiba-tiba terhenti karena dering hanphoneku. Ada seseorang yang menelponku dan orang itu adalah Ical. Aku menoleh ke arahnya dan belum mengangkat telponnya. Dia berdiri menatapku, akupun keluar rumah lagi kemudian mengangkat telponnya.
“Sayna, aku sayang sama kamu.” Begitu ucapnya lewat telepon. Mata kami bertatapan dari kejauhan, kemudian kami saling mendekat dengan perasaan tak karuan. Jantungku serasa jatuh ke perut, tapi kenapa tiba-tiba suasana hatiku menjadi senang dan berbunga-bunga? Saat berdekatan masih dengan telepon di telinga, kami bertatapan dan tersenyum.
“Tutup teleponnya. Pulsamu habis entar..” ucapku dari telepon walaupun jarak kami berhadapan hanya setengah meter. Ical tertawa kemudian menutup teleponnya. Dia merentangkan kedua tangannya memberiku tanda agar aku memeluknya. Pada akhirnya, aku jatuh ke pelukannya. Aneh rasanya tapi aku senang. Begitulah Tuhan, memberi cobaan selalu ada hikmahnya. Saat mukaku hacur kusam dan jerawatan, saat itu juga aku tahu siapa yang tulus dan siapa yang menghianatiku. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk mencintai Ical dengan tulus, sepenuh hati, dan aku akan mempertahankan Ical agar tetap di sisiku.
Begitu aku sampai di apartemen, aku langsung mencari nama Ical di daftar kontak telepon, kemudian menekan tombol call. “Ical sayang... I Love You.” Ucapku begitu dia mengangkat telepon. Seketika malam menjadi sangat indah ketika aku mendengar suaranya.

Pacar Tuh Begini Part 3



Selamat pagi dunia. Selamat pagi hari minggu dan selamat pagi Ical. Weekend kali ini, Ical mengajakku ke Parangtritis. Aku segera mandi dan packing sebelum Ical datang menjemputku siang. Aku mendapat pesan Line dari Ical kalau dia sudah ada di bawah. Aku segera turun dan menemuinya.
“Udah siap?” tanyanya.
“Siap bos.” Seperti biasa Ical memberikanku helm warna pink kemudian aku naik ke jok belakang motornya. Sepanjang jalan, kami melihat pemandangan hamparan sawah yang luas. Sepanjang jalan itu juga aku memeluknya dari belakang dan semakin lama semakin mempererat pelukanku.
            Begitu sampai di pantai, Ical melepas celana panjangnya di hadapanku. “Bener-bener ya nih anak nggak punya malu.” Ucapku sambil menutup mata. “Say, aku udah pake celana pendek kaliik.” Jawab Ical. Ya memang dibalik celana panjangnya, dia sudah memakai celana pendek boxer, tapi ya tetap saja bagiku itu memalukan. Ical mengantarku ke ruang ganti untuk berganti baju.
“Woowww... pacarku seksi banget!!!” ucap Ical begitu aku keluar dari pintu ganti. Aku mendelik.
“Ical! Please yaa buang pikiran jorok kamu..” aku rada ngambek, tapi Ical tetap tersenyum menggoda. Dirangkulnya pundakku, kemudian kami berjalan bersama ke arah pantai. Terlihat disana ombak yang menggulung-nggulung. Aku melepas rangkulan Ical dan berlari mendekati ombak. Ical berjalan pelan mendekatiku dengan langkahnya yang gontai.
“Nggak pernah ke pantai ya buk??” godanya. Aku manyun.
“Setelah berbulan-bulan cuma pergi ke kos sama kampus, akhirnya sekarang bisa refreshing jugaaa...” ucapku sambil menghela nafas panjang. Ical mengelus pelan kepalaku.
            Kami bersenang-senang disana. Semakin sore, pantai nampak semakin sepi. Ombakpun sudah semakin tinggi karena pasang laut. Aku dan Ical duduk di pinggir pantai sesekali ombak menyentuh ujung kakiku dan kaki Ical. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Ical sambil menikmati hamparan pemandangan air yang luas dan sunset.
“Selfie dulu yuk...” aku mengeluarkan handphone dan bersiap untuk foto. Kami mengambil beberapa gambar untuk di abadikan.
“Kayaknya aku punya sesuatu deh..” Ical mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya. Ternyata sebuah roti cream kecil. Dia mencuil rotinya dan bersiap menyuapkannya ke mulutku. “Mau lagi?” tawarnya. Aku mengangguk. Dia memberikanku setengah dari roti yang dia punya. Ical melihat dengan serius saat aku sedang memakan roti, membuatku sedikit grogi. “Kamu lihat apa, Cal?” tanyaku.
“Aku pengen cream dehh...” jawabnya sambil terus melihati wajahku. “Kamu udah punya roti cream sendiri tuh..” jawabku sambil menunjuk ke arah tangan Ical yang memegang roti.
“Bukan cream di roti ini, tapi cream di bibir kamu. Hmmm... kayaknya enak.” jawabnya.
“Icaaalll!!!” aku tersipu malu sembari memukul pelan pundaknya. Aku kemudian berlari lagi mendekati ombak. Mengambil segenggam pasir dan melemparkan bola-bola pasir itu ke arah Ical. Alhasil, kami kerjar-kejaran dan saling lempar bola pasir satu sama lain. Nafasku terengah-engah, aku sudah tidak sanggup berlari lagi. Ical mendapatkanku dari belakang, “Akhirnya kena kamu! Mau kemana hehhh??!!” ucapnya sambil menangkapku dari belakang.
            Setelah bersenang-senang cukup lama, tak terasa suasana sudah mulai gelap. Baju basah dan perut juga mulai terasa lapar. Aku dan Ical segera membilas tubuh kemudian mencari makan di sekitar pantai.
“Mau pulang atau sewa hotel?” tawarnya.
“Pulang aja lahh...” jawabku sambil mencomot gorengan.
“Malem-malem gini? Sewa hotel aja ya. Kita nginep.”
“Eeemmm terserah kamu deh. Tapi kalo dua kamar cari yang murah yaa...”
“Okey, Say.”
***
           Gleeerrrr!!! Aku kaget begitu tahu kalau kamar di penginapan ini tinggal satu. Disana hanya ada satu kasur, lemari, televisi dan kamar mandi dalam.
“Kamu yakin kan nggak bakalan terjadi hal-hal aneh?” tanyaku mempertegas.
“Ya ampun enggak, Say. Aku tidur di lantai aja.” Jawab Ical sambil menunjuk karpet di bawah kasur.
“Ya udah aku tidur yaa...” aku langsung meloncat ke kasur dan mulai memejamkan mata. Sesekali aku melirik Ical, dia mengambil satu bantal dan memposisikan tidurnya di lantai. Aku tidak bisa tidur. Bagaimana aku bisa tidur kalau satu kamar dengan orang yang disayangi begini. Ku lihat Ical yang menekuk tubuhnya karena dinginnya AC yang diserap oleh lantai keramik.
“Sayang, udah tidur?” tanyaku.
“Belum. Kenapa?” tanyanya dengan suara agak berat.
“Kamu nggak apa-apa tidur di lantai?”
“Yaaa pa-pa lah sayang.. dingin.”
“Yaudah kalo gitu aku aja yang tidur di lantai.”
“Udahh tidur aja..” suruhnya.
“Tapi kan kasihan kamu...” aku belum melanjutkan kalimatku, tiba-tiba Ical melompat ke atas kasur dan tidur di sampingku. Dia memiringkan tubuhnya ke arahku, membuatku grogi.
“Ke... kenapa ngelihatin aku kayak gitu? Kamu nggak mikir macem-macem kan?” aku menahan jantungku yang mulai berdegum tak karuan.
“Aku cuman pengen lihat kamu tidur. Cepet tidur gih...” suruhnya tetap dalam posisi seperti itu. Aku memejamkan mataku. Jantungku berdegup kencang. Aku membuka mataku dan meliriknya, dia tersenyum dan bilang, “Sayna, aku nggak bakalan ngapa-ngapain kamu. I love you..” yaaa walaupun dengan kalimat itu membuatku percaya, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Bukan karena takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan, tapi karena memikirkan aku bisa tidur seranjang dengan Ical tanpa melakukan apa-apa.

Isi hati Ical
            Hari ini aku mengajak Sayna ke pantai. Bukan apa-apa, karena memang inilah caraku menghabiskan waktu dengannya. Ya, aku memberinya special time tanpa ada gadget yang mengganggu acara kami. Saat Sayna berganti baju pantai yang sedikit terbuka, sebenarnya aku tidak rela kalau ada orang lain yang melihat sebagian kecil tubuhnya. Aku menggodamu dan bilang kalo kamu itu seksi hanya agar kamu tidak memakai baju itu lagi. Ohhh ya, saat aku mengambil roti dan menyuapkannya padamu itu adalah saat dimana wajahmu begitu manis di pandang. Wajahmu tersipu malu ketika aku bilang “Aku mau cream yang ada di bibiirmu”. Itu sangat lucu. Kamu berlari ke arah gulungan ombak, tertawa selepas itu berbedan dengan kamu yang dulu. Melihat tawa dan senyuman Sayna, membuat hatiku benar-benar damai. Kamu pikir aku bisa tidur dengan posisi tubuh kita yang berada di satu ranjang? Sayna, aku ini seorang laki-laki dewasa, bukan keponakan kecilmu yang sering kamu ajak tidur bersama. Walaupun aku ingin melakukan hal terlarang itu, tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya. Jangankan mencium kamu, memegang tangan kamu saja aku tidak sanggup. Aku takut bila ada seseuatu yang terjadi di antara kita. Yang aku bisa hanya menatapmu dari dekat dan itu cukup membuat jantungku berdegup sangat kencang. Sayna, tunggu sampai kita benar-benar ada di satu ranjang yang sah.

Pacar Tuh Begini Part 2



                Huuhhhh... akhirnya kuliah hari ini selesai. Nggak sempet makan siang karena jadwal kuliah yang padat. Badmoodku seketika hilang begitu mendapat pesan Line dari Ical.
LINE from Ical at 05.20 p.m
Sayang, kamu udah makan belum? (read)
LINE to Ical at 05.21 p.m
Belum nihh.. (read)
LINE from Ical at 05.23 p.m
Kita makan yukk.. aku udah di depan gedung kampus kamu. Di tempat biasa.. (read)
Setelah membaca pesan terakhir, aku langsung berlari ke tempat biasa Ical menemuiku. Aku nggak mau membuat dia menunggu terlalu lama. “Ehh Sayna maen pergi aja...”  ucap Anggi begitu melihatku langsung berlari meninggalkannya. “I’am sorry baby.. I must meet my honey now.. byee..” aku berteriak sambil terus berlari. Anggi hanya melambaikan tangannya dari kejauhan. Ku hentikan langkahku begitu melihat Ical duduk di atas motornya. Aku berjalan perlahan mendekatinya, dia menoleh ke arahku dan tersenyum.
“Mau makan dimana nih kita?” tawarnya sambil menyerahkan helm warna pink. Dia selalu tahu apa warna kesukaanku.
“Emmm apa yaa...” aku berfikir sejenak. “Aku pikirin sambil jalan deh. Yuk brangkat” aku langsung naik di jok belakang motornya.
“Okay tuan putri..”
Ical melajukan motornya sambil sesekali mengajakku ngobrol. Kami memutuskan untuk makan di resto kecil dekat jalan Kaliurang. Begitu turun dari motor, aku agak kesulitan membuka kunci helm. Ical yang melihatku kesulitan membuka kunci helm, membantuku melepaskannya. Wajahnya yang mendekati wajahku dan hembusan nafasnya yang terasa di pipiku, Tuhan... aku mencintai laki-laki ini. Ical menggandeng tanganku masuk ke resto. Kami duduk di dekat kaca besar yang menghadap jalan raya.
“Berhubung kemarin aku numpang makan di kos kamu, sekarang gantian aku yang bayarin.” Ucapnya begitu aku membuka daftar menu.
“Nggak usah lah sayang, kan sama-sama anak kuliahan. Jangan gitu...” aku nggak enak.
“Udahh nggak apa-apa. Pesen aja apa yang kamu suka.”
“Beneran nih?”
“Iya bener!”
“Aku mau pesen yang paling mahal ahh...” godaku. Aku sedikit melirik ke arah wajahnya yang mendadak mengalami perubahan ekspresi. Ical-ku yang lucu. “Eeemm aku pesen ayam kremes sama es jeruk aja.”
“Lohh katanya mau yang mahal?” tanyanya sok-sokan. Ical... aku tahu.
“Udah nggak minat sama yang mahal. Cepet gihh pesen.” Jawabku mengalihkan. Ical hanya manggut-manggut kemudian memesan makanan. Sembari menunggu makanan siap, aku dan Ical shollat maghrib di musholla resto.
“Siap?” ucapnya sambil menoleh ke tempatku berdiri. Ya, aku ada di belakangnya. Akupun mengangguk.
“Allahu akbar.” Ical memulai shollat. Ketika mendengar suara Ical mengucap takbir, hatiku serasa damai. Sangat damai. Aku berharap Ical yang akan menjadi imamku nanti. “Assalamualaikum warrahmatullahh..” ucapnya salam mengakhiri shollat. Ical menoleh ke arahku dan tersenyum kemudian kembali ke posisi semula untuk berdoa. Dia terlihat tampan kalau selesai shollat.
Setelah selesai shollat, kami kembali ke meja resto. Rupanya makanan yang kami pesan baru aja datang. Kami makan malam berdua, tidak romantis tapi ini cukup menyenangkan.
“Gimana kuliahnya tadi?” tanyanya di sela-sela makan.
“Yaa gitu dehh... tugas lagi. Tapi seenggaknya hari ini aku seneng..” jawabku jujur.
“Seneng gara-gara aku ya??” godanya. Tapi memang iya. Aku tersenyum dan mengangguk pelan. “Kamu?” aku tanya balik.
“Tadi bedah mayat. Lumayan lancar walaupun agak takut kalo tiba-tiba tuh mayat bangun.. hehe.” Jawabnya kemudian memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
Tiba-tiba seorang wanita menghampiri kami. “Loh, Ical?”
Aku dan Ical bersamaan menoleh ke arah wanita itu. “Andin, kamu kok bisa disini?” tanya Ical yang ternyata wanita itu adalah wanita yang sering mengirim pesan kepada Ical.
“Iya aku ada janji disini sama teman. Boleh gabung sebentar?” tanyanya. Ical mengangguk pelan. Arrgghhh sebenarnya aku keberatan. Merusak suasana.
“Halo, aku Andin. Kamu temannya Ical ya?” wanita itu mengulurkan tangan. Aku menjabatnya dan berkata, “Aku Sayna.” Saat dia menanyaiku bahwa aku temannya Ical, aku agak tersinggung. Aku ini pacarnya!!
“Dia bukan temanku, Din.” Sahut Ical yang mungkin sempat melihat ekspresiku yang kecut.
“Saudara?”
“Dia pacarku.” Jawaban Ical membuatku terkejut sekaligus membuat hatiku sendikit longgar. Wanita itu juga nampak terkejut.
“Ohh begitu. Ya udah kalo gitu aku ke sana dulu yaa. Lagi ada janji...” mendadak wanita itu berpamitan. Ical tersenyum ke arahku. Nampaknya dia benar-benar membuktikan bahwa aku adalah seseorang yang dia banggakan.
Isi hati Ical
               Sore ini aku aku menunggumu di samping fakultasmu. Kamu yang berlari dengan senyuman merekah dari bibirmu, hampir membuatku gila. Sayna, kenapa kamu selalu membuat hatiku berdegup seperti ini tiap kali aku melihat senyumanmu?? Saat aku menawarimu untuk makan apa, tiba-tiba kamu langsung naik ke jok belakang motorku dan memelukku dari belakang.
                Sayna-ku yang cantik ketika memakai mukena kemudian berdiri di belakangku sebagai makmum. Aku berharap kita akan seperti ini kedepannya. Say, kamu nggak perlu cemburu soal wanita yang menghampiri kita itu. Andin bukan type-ku, justru kamulah segalanya. Aku bangga memiliki kekasih yang cantik, baik, nggak bawel, dan yang terpenting adalah setia. Terimakasih telah bertahan bersamaku sampai sekarang. Aku mencintaimu Sayna.

Pacar Tuh Begini Part 1



                Pagi ini aku sibuk membereskan kamar kosku. Mencuci baju, menyapu, mengepel, tiba-tiba bunyi ringtone Line di handphone menghentikan kegiatanku sejenak. Aku meraih ponselku, dan membuka isi pesan Line tersebut. Ohhh ternyata dari Genta.
LINE from Ical at 07.55 a.m (read)
“Sayang, aku makan di kos kamu yaaa... uangku habis ini.”
LINE to Ical at 07.56 a.m (read)
“Ya udah sini...”
Balasanku hanya di read, mungkin Ical langsung tancap gas menuju kosku. Yaa itulah pacarku dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku kemudian keluar ke warung sekitar kosku, membeli bahan makanan untuk bisa dimasak dan dimakan bersama Ical. Hhhmmm... sayur asem, mungkin boleh dicoba. Lima belas menit kemudian Ical sampai di kosku. Aku suka style casualnya dengan pawakan yang tinggi. Sangat tampan.
“Kosmu selalu rapi dan wangi ya, Say.” Ucapnya begitu masuk ke kamar kosku.
“Apelahh... mau makan kan?” tanyaku menggoda. Dia mengangguk dengan raut muka penuh harap, membuatku ingin tertawa melihat ekspresinya.
“Masak dulu ya sayangg...” ucapku mengubah ekspresi wajahnya. Hahaha. Laki-laki yang lucu. Aku menyerahkan pisau agar dia memotong kacang panjang, sedangkan aku menanak nasi di magic com.
“Ini motongnya segini?” tanyanya sambil memperlihatkan potongan kacang panjang yang sudah dia potong.
“Iya terserah kamu.” Aku pura-pura sibuk, padahal aku sedang asyik memandanginya yang sedang memotong-motong sayur dengan tangannya yang kaku. Setelah sayuran siap, aku memasukkannya ke panci kecil yang airnya sudah mendidih kemudian memasukkan bumbu sayur asem instant. Ical mengambil dua piring dan meletakkannya di kasur.
“Sendoknya mana sayang?” dia mencari-cari sendok yang biasa ada di tempat, tapi tidak ada.
“Masih di tempat cuci kali. Coba diambil.” Aku menyuruhnya pergi ke dapur kos untuk mengambil sendok disana. Begitu kembali ke kamarku, dia menyipratkan sedikit air ke wajahku menggunakan jarinya.
“Ical!!” aku berteriak menyebut namanya.
“Ciee yang belum mandi..” ucapnya sambil tersenyum menggoda.
“Udahh sini gih makan. Udah mateng.” Aku menyuruhnya duduk disampingku dan makan masakan buatan kami berdua. Aku mengambilkan nasi untuknya, dan dia memberikan sendok padaku.
“Kegiatan hari ini ngapain?” tanyanya disela-sela makan.
“Eemm...” aku mencoba mengingat-ingat agenda hari ini. “Nggak ada.” Lanjutku begitu aku ingat bahwa tidak ada agenda apa-apa hari sabtu ini.
“Maklum lah yaa.. akhir bulan gini kagak ada duit, jadinya nggak bisa kemana-mana.” Sahutnya.
“Kapan nih mau pulang?” tanyaku sejurus kemudian.
“Dua minggu lagi kayaknya..”
“Uuhh lamaaa....” aku memasang wajah melas. Dia menenangkanku dengan mengacak-acak pelan rambutku kemudian menyentuh lembut pipiku agar aku kembali tersenyum. Aku membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya, sedangkan Ical hanya duduk-duduk asyik melihat layar handphonenya. Senyum-senyum sendiri pula.
“Kenapa senyum-senyum??” tanyaku sambil meletakkan piring yang baru aku cuci di tempatnya.
“Enggak..” jawabnya sambil tertawa kecil. Aku tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan. Mungkin kalau pacarnya bukan aku, akan langsung merebut ponselnya untuk memastikan kalau laki-lakinya tidak sedang dekat dengan wanita lain. Tapi aku menghargai privasinya.
“Ini lho sayang, ada cewek nguber-nguber aku terus... coba lihat pesan line-nya nih.. hahah.” Dia menyerahkan ponselnya padaku agar aku melihatnya. Begini isi pesannya:
Halo Ical, kamu udah makan belum? Makan bareng aku yuk. Aku nggak bisa makan sendirian. :*
Aku agak kaget melihat emoticon cium di akhir kalimat. “Kok ada emoticon ciumnya?” sebelum aku berfikiran negatif, lebih baik aku tanyakan langsung.
“Aku juga nggak tahu sih..” jawabnya singkat.
“Emang kamu nggak pernah bilang kalo kamu udah punya pacar?” tanyaku lagi. Ical terdiam dan menggeleng.
“Ohh jadi kamu suka jadi idola para cewek-cewek??”
“Bukan gitu sayang...”
“Kamu pulang deh.. aku mau ngerjain tugas.” Aku mendadak badmood.
“Sayang, jangan marah.” Ucapnya sambil ku dorong keluar dari kosku. Wanita mana yang nggak sebel kalau dirinya tidak pernah diperkenalkan sebagai pacarnya. Wanita mana yang nggak cemburu kalau pacarnya banyak digandrungi cewek-cewek kegenitan. Ahhh Ical.. sebenarnya aku nggak mau kayak gini, tapi kamu yang memulai. Hari-hariku mulai kalut dengan pikiran-pikiran negatif tentang Ical. Aku sedikit takut kalau Ical tidak mencintaiku lagi. Bagaimana kalau ada wanita yang lebih baik dariku? Aku harus bagaimana?
                Siang itu Ical kembali ke kosku untuk makan siang sisa masakan tadi pagi. Suasana jadi agak canggung karena aku yang sempat badmood tadi. Ical hanya datang, lalu duduk dan makan. Tidak ada percakapan yang berarti, hanya ada saling menatap mata seolah-olah hati yang sedang berbicara.
Isi hati Ical
                Sayna-ku... selain cantik, dia juga wanita yang mandiri. Tidak mudah meminta tolong saat dia bisa mengerjakannya sendiri, kecuali dia benar-benar butuh pertolongan. Hari ini aku kehabisan jatah uang bulanan, aku memasak bersama Sayna. Tapi sesuatu membuat Sayna-ku terlihat jengkel. Ya, emoticon cium dari teman perempuanku membuatnya cemburu. Aku memakluminya, karena aku tahu seberapa cintanya Sayna padaku. Saat aku datang ke kosnya siang itu untuk makan bersama lagi, dia memperbolehkanku masuk ke kosnya walaupun dalam diam. Inilah yang aku suka dari Sayna. Semarah-marahnya dia, sengambek-ngambeknya dia, Sayna masih tetap menerimaku. Selalu ada di sisiku dan membantuku. Aku tahu, Sayna tidak akan bisa lama-lama ngambeknya. Aku sangat mencintaimu Sayna...

***
“Kamu nggak mau denger penjelasanku dulu?” Ical membuka obrolan begitu selesai makan siang.
“Soal apa? Emang ada yang harus dijelasin?” tanyaku datar sambil membereskan piring.
“Soal temen perempuanku itu. Dia emang kayak gitu, tapi aku balesnya juga nggak genit kan.. aku bales seadanya.” Jelasnya.
“Trus?” tanyaku lagi.
“Jangan marah yaa...” pintanya memelas. Melihat wajahnya yang seperti itu, akupun tertawa.
“Hahaha siapa sih yang marah... cuman agak kesel aja tadi. Maaf yaa..” Jawabku merubah suasana yang tadinya canggung menjadi seperti biasanya. Aku tersenyum, Ical ikut tersenyum. Memang Ical membalas pesan hanya seperlunya aja, seperti ‘Lain kali yaa’ atau ‘Oh maaf lagi ada praktikum’ atau “Lagi kegiatan nih’. Setidaknya aku tahu kalau Ical menolak ajakan wanita itu secara halus. Setelah melihatku tertawa, dia mulai tersenyum.