Jumat, 01 Januari 2016

Pacar Tuh Begini Part 3



Selamat pagi dunia. Selamat pagi hari minggu dan selamat pagi Ical. Weekend kali ini, Ical mengajakku ke Parangtritis. Aku segera mandi dan packing sebelum Ical datang menjemputku siang. Aku mendapat pesan Line dari Ical kalau dia sudah ada di bawah. Aku segera turun dan menemuinya.
“Udah siap?” tanyanya.
“Siap bos.” Seperti biasa Ical memberikanku helm warna pink kemudian aku naik ke jok belakang motornya. Sepanjang jalan, kami melihat pemandangan hamparan sawah yang luas. Sepanjang jalan itu juga aku memeluknya dari belakang dan semakin lama semakin mempererat pelukanku.
            Begitu sampai di pantai, Ical melepas celana panjangnya di hadapanku. “Bener-bener ya nih anak nggak punya malu.” Ucapku sambil menutup mata. “Say, aku udah pake celana pendek kaliik.” Jawab Ical. Ya memang dibalik celana panjangnya, dia sudah memakai celana pendek boxer, tapi ya tetap saja bagiku itu memalukan. Ical mengantarku ke ruang ganti untuk berganti baju.
“Woowww... pacarku seksi banget!!!” ucap Ical begitu aku keluar dari pintu ganti. Aku mendelik.
“Ical! Please yaa buang pikiran jorok kamu..” aku rada ngambek, tapi Ical tetap tersenyum menggoda. Dirangkulnya pundakku, kemudian kami berjalan bersama ke arah pantai. Terlihat disana ombak yang menggulung-nggulung. Aku melepas rangkulan Ical dan berlari mendekati ombak. Ical berjalan pelan mendekatiku dengan langkahnya yang gontai.
“Nggak pernah ke pantai ya buk??” godanya. Aku manyun.
“Setelah berbulan-bulan cuma pergi ke kos sama kampus, akhirnya sekarang bisa refreshing jugaaa...” ucapku sambil menghela nafas panjang. Ical mengelus pelan kepalaku.
            Kami bersenang-senang disana. Semakin sore, pantai nampak semakin sepi. Ombakpun sudah semakin tinggi karena pasang laut. Aku dan Ical duduk di pinggir pantai sesekali ombak menyentuh ujung kakiku dan kaki Ical. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Ical sambil menikmati hamparan pemandangan air yang luas dan sunset.
“Selfie dulu yuk...” aku mengeluarkan handphone dan bersiap untuk foto. Kami mengambil beberapa gambar untuk di abadikan.
“Kayaknya aku punya sesuatu deh..” Ical mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya. Ternyata sebuah roti cream kecil. Dia mencuil rotinya dan bersiap menyuapkannya ke mulutku. “Mau lagi?” tawarnya. Aku mengangguk. Dia memberikanku setengah dari roti yang dia punya. Ical melihat dengan serius saat aku sedang memakan roti, membuatku sedikit grogi. “Kamu lihat apa, Cal?” tanyaku.
“Aku pengen cream dehh...” jawabnya sambil terus melihati wajahku. “Kamu udah punya roti cream sendiri tuh..” jawabku sambil menunjuk ke arah tangan Ical yang memegang roti.
“Bukan cream di roti ini, tapi cream di bibir kamu. Hmmm... kayaknya enak.” jawabnya.
“Icaaalll!!!” aku tersipu malu sembari memukul pelan pundaknya. Aku kemudian berlari lagi mendekati ombak. Mengambil segenggam pasir dan melemparkan bola-bola pasir itu ke arah Ical. Alhasil, kami kerjar-kejaran dan saling lempar bola pasir satu sama lain. Nafasku terengah-engah, aku sudah tidak sanggup berlari lagi. Ical mendapatkanku dari belakang, “Akhirnya kena kamu! Mau kemana hehhh??!!” ucapnya sambil menangkapku dari belakang.
            Setelah bersenang-senang cukup lama, tak terasa suasana sudah mulai gelap. Baju basah dan perut juga mulai terasa lapar. Aku dan Ical segera membilas tubuh kemudian mencari makan di sekitar pantai.
“Mau pulang atau sewa hotel?” tawarnya.
“Pulang aja lahh...” jawabku sambil mencomot gorengan.
“Malem-malem gini? Sewa hotel aja ya. Kita nginep.”
“Eeemmm terserah kamu deh. Tapi kalo dua kamar cari yang murah yaa...”
“Okey, Say.”
***
           Gleeerrrr!!! Aku kaget begitu tahu kalau kamar di penginapan ini tinggal satu. Disana hanya ada satu kasur, lemari, televisi dan kamar mandi dalam.
“Kamu yakin kan nggak bakalan terjadi hal-hal aneh?” tanyaku mempertegas.
“Ya ampun enggak, Say. Aku tidur di lantai aja.” Jawab Ical sambil menunjuk karpet di bawah kasur.
“Ya udah aku tidur yaa...” aku langsung meloncat ke kasur dan mulai memejamkan mata. Sesekali aku melirik Ical, dia mengambil satu bantal dan memposisikan tidurnya di lantai. Aku tidak bisa tidur. Bagaimana aku bisa tidur kalau satu kamar dengan orang yang disayangi begini. Ku lihat Ical yang menekuk tubuhnya karena dinginnya AC yang diserap oleh lantai keramik.
“Sayang, udah tidur?” tanyaku.
“Belum. Kenapa?” tanyanya dengan suara agak berat.
“Kamu nggak apa-apa tidur di lantai?”
“Yaaa pa-pa lah sayang.. dingin.”
“Yaudah kalo gitu aku aja yang tidur di lantai.”
“Udahh tidur aja..” suruhnya.
“Tapi kan kasihan kamu...” aku belum melanjutkan kalimatku, tiba-tiba Ical melompat ke atas kasur dan tidur di sampingku. Dia memiringkan tubuhnya ke arahku, membuatku grogi.
“Ke... kenapa ngelihatin aku kayak gitu? Kamu nggak mikir macem-macem kan?” aku menahan jantungku yang mulai berdegum tak karuan.
“Aku cuman pengen lihat kamu tidur. Cepet tidur gih...” suruhnya tetap dalam posisi seperti itu. Aku memejamkan mataku. Jantungku berdegup kencang. Aku membuka mataku dan meliriknya, dia tersenyum dan bilang, “Sayna, aku nggak bakalan ngapa-ngapain kamu. I love you..” yaaa walaupun dengan kalimat itu membuatku percaya, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Bukan karena takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan, tapi karena memikirkan aku bisa tidur seranjang dengan Ical tanpa melakukan apa-apa.

Isi hati Ical
            Hari ini aku mengajak Sayna ke pantai. Bukan apa-apa, karena memang inilah caraku menghabiskan waktu dengannya. Ya, aku memberinya special time tanpa ada gadget yang mengganggu acara kami. Saat Sayna berganti baju pantai yang sedikit terbuka, sebenarnya aku tidak rela kalau ada orang lain yang melihat sebagian kecil tubuhnya. Aku menggodamu dan bilang kalo kamu itu seksi hanya agar kamu tidak memakai baju itu lagi. Ohhh ya, saat aku mengambil roti dan menyuapkannya padamu itu adalah saat dimana wajahmu begitu manis di pandang. Wajahmu tersipu malu ketika aku bilang “Aku mau cream yang ada di bibiirmu”. Itu sangat lucu. Kamu berlari ke arah gulungan ombak, tertawa selepas itu berbedan dengan kamu yang dulu. Melihat tawa dan senyuman Sayna, membuat hatiku benar-benar damai. Kamu pikir aku bisa tidur dengan posisi tubuh kita yang berada di satu ranjang? Sayna, aku ini seorang laki-laki dewasa, bukan keponakan kecilmu yang sering kamu ajak tidur bersama. Walaupun aku ingin melakukan hal terlarang itu, tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya. Jangankan mencium kamu, memegang tangan kamu saja aku tidak sanggup. Aku takut bila ada seseuatu yang terjadi di antara kita. Yang aku bisa hanya menatapmu dari dekat dan itu cukup membuat jantungku berdegup sangat kencang. Sayna, tunggu sampai kita benar-benar ada di satu ranjang yang sah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar