Selamat pagi dunia. Selamat pagi hari minggu dan
selamat pagi Ical. Weekend kali ini, Ical mengajakku ke Parangtritis. Aku
segera mandi dan packing sebelum Ical datang menjemputku siang. Aku mendapat
pesan Line dari Ical kalau dia sudah ada di bawah. Aku segera turun dan
menemuinya.
“Udah siap?” tanyanya.
“Siap bos.” Seperti biasa Ical memberikanku helm warna pink
kemudian aku naik ke jok belakang motornya. Sepanjang jalan, kami melihat pemandangan
hamparan sawah yang luas. Sepanjang jalan itu juga aku memeluknya dari belakang
dan semakin lama semakin mempererat pelukanku.
Begitu
sampai di pantai, Ical melepas celana panjangnya di hadapanku. “Bener-bener ya
nih anak nggak punya malu.” Ucapku sambil menutup mata. “Say, aku udah pake
celana pendek kaliik.” Jawab Ical. Ya memang dibalik celana panjangnya, dia
sudah memakai celana pendek boxer, tapi ya tetap saja bagiku itu memalukan. Ical
mengantarku ke ruang ganti untuk berganti baju.
“Woowww... pacarku seksi banget!!!” ucap Ical begitu aku
keluar dari pintu ganti. Aku mendelik.
“Ical! Please yaa buang pikiran jorok kamu..” aku rada
ngambek, tapi Ical tetap tersenyum menggoda. Dirangkulnya pundakku, kemudian
kami berjalan bersama ke arah pantai. Terlihat disana ombak yang
menggulung-nggulung. Aku melepas rangkulan Ical dan berlari mendekati ombak.
Ical berjalan pelan mendekatiku dengan langkahnya yang gontai.
“Nggak pernah ke pantai ya buk??” godanya. Aku manyun.
“Setelah berbulan-bulan cuma pergi ke kos sama kampus,
akhirnya sekarang bisa refreshing jugaaa...” ucapku sambil menghela nafas
panjang. Ical mengelus pelan kepalaku.
Kami
bersenang-senang disana. Semakin sore, pantai nampak semakin sepi. Ombakpun
sudah semakin tinggi karena pasang laut. Aku dan Ical duduk di pinggir pantai
sesekali ombak menyentuh ujung kakiku dan kaki Ical. Aku menyandarkan kepalaku
di bahu Ical sambil menikmati hamparan pemandangan air yang luas dan sunset.
“Selfie dulu yuk...” aku mengeluarkan handphone dan bersiap untuk foto. Kami mengambil beberapa gambar
untuk di abadikan.
“Kayaknya aku punya sesuatu deh..” Ical mengambil sesuatu
dari dalam tas kecilnya. Ternyata sebuah roti cream kecil. Dia mencuil rotinya
dan bersiap menyuapkannya ke mulutku. “Mau lagi?” tawarnya. Aku mengangguk. Dia
memberikanku setengah dari roti yang dia punya. Ical melihat dengan serius saat
aku sedang memakan roti, membuatku sedikit grogi. “Kamu lihat apa, Cal?”
tanyaku.
“Aku pengen cream dehh...” jawabnya sambil terus melihati wajahku.
“Kamu udah punya roti cream sendiri tuh..” jawabku sambil menunjuk ke arah tangan
Ical yang memegang roti.
“Bukan cream di roti ini, tapi cream di bibir kamu. Hmmm...
kayaknya enak.” jawabnya.
“Icaaalll!!!” aku tersipu malu sembari memukul pelan pundaknya.
Aku kemudian berlari lagi mendekati ombak. Mengambil segenggam pasir dan
melemparkan bola-bola pasir itu ke arah Ical. Alhasil, kami kerjar-kejaran dan
saling lempar bola pasir satu sama lain. Nafasku terengah-engah, aku sudah
tidak sanggup berlari lagi. Ical mendapatkanku dari belakang, “Akhirnya kena
kamu! Mau kemana hehhh??!!” ucapnya sambil menangkapku dari belakang.
Setelah
bersenang-senang cukup lama, tak terasa suasana sudah mulai gelap. Baju basah
dan perut juga mulai terasa lapar. Aku dan Ical segera membilas tubuh kemudian
mencari makan di sekitar pantai.
“Mau pulang atau sewa hotel?” tawarnya.
“Pulang aja lahh...” jawabku sambil mencomot gorengan.
“Malem-malem gini? Sewa hotel aja ya. Kita nginep.”
“Eeemmm terserah kamu deh. Tapi kalo dua kamar cari yang
murah yaa...”
“Okey, Say.”
***
Gleeerrrr!!!
Aku kaget begitu tahu kalau kamar di penginapan ini tinggal satu. Disana hanya
ada satu kasur, lemari, televisi dan kamar mandi dalam.
“Kamu yakin kan nggak bakalan terjadi hal-hal aneh?” tanyaku
mempertegas.
“Ya ampun enggak, Say. Aku tidur di lantai aja.” Jawab Ical
sambil menunjuk karpet di bawah kasur.
“Ya udah aku tidur yaa...” aku langsung meloncat ke kasur dan
mulai memejamkan mata. Sesekali aku melirik Ical, dia mengambil satu bantal dan
memposisikan tidurnya di lantai. Aku tidak bisa tidur. Bagaimana aku bisa tidur
kalau satu kamar dengan orang yang disayangi begini. Ku lihat Ical yang menekuk
tubuhnya karena dinginnya AC yang diserap oleh lantai keramik.
“Sayang, udah tidur?” tanyaku.
“Belum. Kenapa?” tanyanya dengan suara agak berat.
“Kamu nggak apa-apa tidur di lantai?”
“Yaaa pa-pa lah sayang.. dingin.”
“Yaudah kalo gitu aku aja yang tidur di lantai.”
“Udahh tidur aja..” suruhnya.
“Tapi kan kasihan kamu...” aku belum melanjutkan kalimatku,
tiba-tiba Ical melompat ke atas kasur dan tidur di sampingku. Dia memiringkan
tubuhnya ke arahku, membuatku grogi.
“Ke... kenapa ngelihatin aku kayak gitu? Kamu nggak mikir
macem-macem kan?” aku menahan jantungku yang mulai berdegum tak karuan.
“Aku cuman pengen lihat kamu tidur. Cepet tidur gih...”
suruhnya tetap dalam posisi seperti itu. Aku memejamkan mataku. Jantungku
berdegup kencang. Aku membuka mataku dan meliriknya, dia tersenyum dan bilang,
“Sayna, aku nggak bakalan ngapa-ngapain kamu. I love you..” yaaa walaupun
dengan kalimat itu membuatku percaya, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur.
Bukan karena takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan, tapi karena
memikirkan aku bisa tidur seranjang dengan Ical tanpa melakukan apa-apa.
Isi hati
Ical
Hari ini aku mengajak Sayna ke pantai. Bukan
apa-apa, karena memang inilah caraku menghabiskan waktu dengannya. Ya, aku
memberinya special time tanpa ada gadget yang mengganggu acara kami. Saat Sayna
berganti baju pantai yang sedikit terbuka, sebenarnya aku tidak rela kalau ada orang
lain yang melihat sebagian kecil tubuhnya. Aku menggodamu dan bilang kalo kamu
itu seksi hanya agar kamu tidak memakai baju itu lagi. Ohhh ya, saat aku
mengambil roti dan menyuapkannya padamu itu adalah saat dimana wajahmu begitu
manis di pandang. Wajahmu tersipu malu ketika aku bilang “Aku mau cream yang
ada di bibiirmu”. Itu sangat lucu. Kamu berlari ke arah gulungan ombak, tertawa
selepas itu berbedan dengan kamu yang dulu. Melihat tawa dan senyuman Sayna,
membuat hatiku benar-benar damai. Kamu pikir aku bisa tidur dengan posisi tubuh
kita yang berada di satu ranjang? Sayna, aku ini seorang laki-laki dewasa,
bukan keponakan kecilmu yang sering kamu ajak tidur bersama. Walaupun aku ingin
melakukan hal terlarang itu, tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya.
Jangankan mencium kamu, memegang tangan kamu saja aku tidak sanggup. Aku takut
bila ada seseuatu yang terjadi di antara kita. Yang aku bisa hanya menatapmu
dari dekat dan itu cukup membuat jantungku berdegup sangat kencang. Sayna,
tunggu sampai kita benar-benar ada di satu ranjang yang sah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar